Minggu, 06 Mei 2012

Jodoh, Pilihan Sendiri atau Murabbi?


Bismillahirrahmanirrahim…
Ada banyak cerita yang aku dapatkan tentang proses ta’aruf selama ini. Dari sekian banyak cerita, ternyata ada yang sungguh dramatis dan tragis. Seperti apakah ceritanya?
Seperti judul di atas, cerita ta’aruf yang akan diangkat di sini tentang pilihan sendiri atau pilihan murabbi. Ada yang pernah bilang: “Salah ga sih kalo ada ikhwan yang sudah punya pilihan sendiri kemudian mengajukan sebuah nama kepada murabbinya?”
Tentu hal ini tak salah dan tak melanggar syar’i. Ketika memang sudah ada kecenderungan dengan seorang akhwat dan memang sudah siap nikah, maka keberanian mengajukan sebuah nama kepada seorang murabbi bukanlah hal yang tak syar’i. Banyak yang bilang bahwa ketika sudah menunjuk sebuah nama, apalagi misalnya satu organisasi, sering berinteraksi selama ini, khawatir bahwa sudah terkotori dengan hal-hal yang tak suci. Itu semua hanya kekhawatiran yang seharusnya diikhtiarkan dengan menjaga prosesnya.
Apakah proses ta’aruf itu hanya dengan orang yang belum dikenal sama sekali? Ingatkah kita kisah Fatimah dan Ali? Mereka berdua adalah sepupu, sudah saling kenal. Ali mencintai Fatimah karena akhlaq Fatimah yang begitu mulia ketika ia lihat dalam kesehariannya. Begitu pun Fatimah yang ternyata telah mencintai Ali sebelum menikah dengan Ali. Ingatkah pula kita kisah Salman Al Farisi yang berkehendak meminang seorang wanita dengan bantuan Abu Darda? Bukankah Salman memang telah ada kecenderungan terlebih dahulu pada wanita itu hingga akhirnya meminta Abu Darda meminangkan wanita itu untuk Salman? Namun memang pada akhirnya, Salman tak berjodoh dengan wanita itu karena wanita itu menginginkan Abu Darda sebagai suaminya.
Jadi, memang tak salah jika seorang ikhwan sudah memiliki kecenderungan terlebih dulu terhadap seorang akhwat dan berani mengajukan nama kepada murabbinya. Nah kadang yang jadi masalah itu adalah bagaimana mengkomunikasikan hal ini kepada murabbi.
Yuk, simak dua kisah berikut ini.
Ada seorang ikhwan yang sudah memiliki kecenderungan dengan seorang akhwat satu organisasi. Ia pun siap menikah. Namun, dalam prosesnya, ia tak meminta sang murabbi sebagai fasilitatornya, melainkan meminta sang kawan yang menjadi fasilitatornya. Hal ini ia lakukan karena sang murabbi sudah punya proyeksi akhwat untuk ikhwan ini, yang tak lain tak bukan adalah adik sang murabbi sendiri, ada rasa tak enak mungkin. Sebenarnya tak masalah jika murabbi bukan sebagai fasilitator proses ta’aruf, asal dikomunikasikan dari awal. Entah mungkin merasa tak enak dengan sang murabbi, akhirnya ikhwan itu berproses dengan akhwat tersebut lewat jalur ‘swasta’, yang ternyata akhwat ini pun punya kecenderungan yang sama, yang lagi-lagi juga sama, tak mengkomunikasikan dengan murabbinya. Hingga akhirnya menjelang menikah, barulah mereka berdua bilang ke murabbinya.
Lantas bagaimana tanggapan sang murabbi? Murabbi sang ikhwan bilang: “Antum cari aja murabbi lain…”.Jleb. Dalem euy, hingga akhirnya sang ikhwan ‘kabur’ dari lingkaran. Begitu pun dengan sang akhwat, ternyata keluar juga dari lingkarannya. Dan mereka menikah. Namun amat disayangkan karena ternyata pernikahan mereka tak sesuai yang diharapkan. Ikhwan yang di mata sang akhwat begitu dewasa ketika dalam organisasi, ternyata begitu kekanakan dalam rumah tangga. Dan sang akhwat ingin segera bercerai walaupun sudah dikaruniai seorang anak. Huuffh… apakah ini sebuah pernikahan yang tak diridhoi murabbi?
Kisah kedua lain lagi ceritanya. Jika cerita pertama terkesan tak menghargai murabbinya, maka cerita kedua kebalikannya. Ada seorang ikhwan yang sudah siap menikah dan sudah punya kecenderungan dengan akhwat yang sudah dikenalnya. Namun kemudian sang murabbi menawarkan akhwat lain untuk berproses dengannya. Karena sang ikhwan begitu tsiqah dengan murabbinya terkait masalah jodohnya ini, maka ia pun menerima tawaran sang murabbi untuk berta’aruf dengan akhwat pilihan murabbi yang belum ia kenal sebelumnya.
Proses pun lancar hingga akhirnya diputuskan tanggal pernikahan. Namun apa yang dilakukan sang ikhwan sepekan menjelang pernikahannya? Ia mengirim email kepada akhwat yang dicenderunginya itu, mengatakan bahwa ia siap membatalkan pernikahannya jika sang akhwat meminta untuk membatalkannya. Lantas apa reaksi sang akhwat? Akhwat itu hanya bilang: “jangan bodoh Antum, seminggu lagi Antum udah mau nikah, undangan udah disebar, apa ga malu nanti keluarga besar Antum?”
Dan akhirnya ikhwan itu tetap menikah dengan akhwat pilihan murabbinya. Qadarullah, setelah beberapa minggu menikah, sang istri rupanya melihat email yang dikirim sang ikhwan ke seorang akhwat yang dicenderungi sang ikhwan. Kaget luar biasa tentunya dan akhirnya sang istri menemui akhwat tersebut dan bilang: “kenapa mba ga bilang kalo ikhwan itu udah ada kecenderungan dengan mba dan begitu pun dengan mba udah ada kecenderungan dengan dia. Kalo saya tahu, saya akan membatalkan pernikahan saya, mba…”. Dan entahlah bagaimana kisah selanjutnya.
Ya. Itu dua kisah yang amat dramatis dan tragis tentang sebuah proses ta’aruf menuju jenjang pernikahan. Yang satu punya pilihan sendiri dan mengikuti pilihannya sendiri tanpa mengkomunikasikannya dengan sang murabbi sedangkan yang satunya lagi memilih pilihan murabbi walaupun sudah punya pilihan sendiri, dan lagi-lagi tak mengkomunikasikan tentang pilihan sendirinya ini kepada sang murabbi.
Jika dilihat dua kasus di atas, apa sebenarnya yang menjadi kunci dari masalah ini? K-O-M-U-N-I-K-A-S-I. Ya, komunikasi antara sang ikhwan dan murabbi yang bermasalah. Padahal jika saja hal-hal dalam penjemputan jodoh dikomunikasikan dengan baik kepada sang murabbi, maka tak akan terjadi kisah tragis dan dramatis seperti di atas. Namun karena kisah ini sudah terjadi, maka semoga menjadi pelajaran bagi kita yang mungkin sedang berikhtiar kearah sana.
Hilangkan rasa sungkan untuk mengkomunikasikan kepada murabbi jika memang sudah punya pilihan sendiri. Begitu pun dengan seorang Murabbi, alangkah lebih baik menanyakan terlebih dulu kepada binaannya apakah sang binaan sudah mempunyai pilihan atau belum, karena mungkin ada yang sungkan untuk mengatakannya pada Murabbi. Bagaimanapun seorang murabbi adalah orangtua kita, yang tau banyak tentang kita, sudah selayaknya kita pun menghargainya, setidaknya berdiskusi dengan murabbi untuk setiap pilihan kita, tentunya berdiskusi pula dengan orangtua kandung kita. Intinya, sama-sama dikomunikasikan kepada orangtua maupun murabbi. Entah jika memang sudah punya pilihan sendiri atau pilihan murabbi. Semoga kedua kisah di atas tak menimpa kita. Aamiin.
Tulisan ini dibuat hanya untuk mengingatkan kita tentang proses ta’aruf yang menjadi gerbang awal sebuah pernikahan, sudah selayaknya proses ta’aruf itu terjaga dari segala bentuk ketidaksucian niat, ikhtiar dan tawakal. Hati-hati juga jika kemudian timbul bisikan-bisikan setan akibat berlama-lama dalam menyegerakan jika memang sudah siap menikah dan sudah punya pilihan sendiri ataupun murabbi.

Sumber: www.dakwatuna.com
Baca selengkapnya » 0 komentar

Rabu, 07 Desember 2011

Apa Artinya CINTA?


❀ Kata Melinda →❤ cinta itu indah & bikin melayang ✔
✿ Kata Najwa →❤ cinta muka buku ✔
❀ Kata Rangga →❤ ada apa dgn cinta ✔
✿ Kata Radja →❤ benci bilang cinta ✔
❀ Kata Agnes Monica →❤ cinta tak ada logika ✔
✿ Kata Polis →❤ cinta itu sukar ditangkap ✔
❀ Kata Ustaz →❤ cinta itu anugerah ✔
✿ Kata Doktor → ❤cinta tak dapat untuk diobati ✔
❀ Kata Guru →❤ cinta tak boleh utk di pelajari ✔
✿ Kata Hakim →❤ cinta tak boleh di hukum ✔
❀ Kata Orang →❤ cinta itu indah ✔
✿ Kata Ulama →❤ cinta Allah kekal abadi ✔
❀ Kata Rasulullaah →❤ Ibnu Majah meriwaytkan dari Ibnu Abbas bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Artinya : Aku tidak pernah melihat ada dua orang yang saling mencintai selain melalui jalur pernikahan”. ✔
Baca selengkapnya » 1 komentar

Rabu, 30 November 2011

SUNGGUH, BETAPA BERHARGANYA MENJADI SEORANG WANITA MUSLIM (Read. Muslimah)

Sering kaum feminis tidak henti-hentinya berpromosi untuk "MEMERDEKAKAN WANITA".
Menurut mereka, menjadi wanita itu ribet dan tertindas. Apalagi dalam Islam harus ada peraturan-peraturan beriikut:
  
1. Wanita auratnya lebih susah dijaga (lebih banyak) dibanding lelaki. Yang boleh kelihatan Cuma telapak tangan dan wajah. Harus memakai pakaian lebar dan panjang. Belum lagi kalau musim panas.
2. Wanita perlu meminta izin dari suaminya apabila mau keluar rumah tetapi tidak sebaliknya.
3. Wanita saksinya (apabila menjadi saksi) kurang berbanding lelaki à 2 wanita = 1 laki-laki
4. Wanita menerima warisan lebih sedikit daripada lelaki.
5. Wanita perlu menghadapi kesusahan mengandung dan melahirkan anak.
6. Wanita wajib taat kepada suaminya, sementara suami tak perlu taat pada isterinya.
7. Talak terletak di tangan suami dan bukan isteri.
8. Wanita kurang dalam beribadat karena adanya masalah haid Dan nifas yang tak Ada
pada lelaki.
  
PERNAHKAH MEREKA BERFIKIR TENTANG WANITA DALAM ISLAM?
SUNGGUH, BETAPA BERHARGANYA MENJADI WANITA ITU…

1. Benda yang mahal harganya akan dijaga dan dibelai serta disimpan ditempat yang
teraman dan terbaik. Sudah pasti intan permata tidak akan dibiar terserak
bukan? Itulah bandingannya dengan seorang wanita.
Maka,  betapa berharganya seorang wanita, hingga harus dibungkus rapi dalam balutan busana syar’i.

2. Wanita perlu taat kepada suami, tetapi tahukah engkau? Seorang anak wajib taat kepada ibunya
tiga kali lebih utama daripada kepada bapaknya? Sungguh, terhormatnya menjadi seorang ibuJ

3. Wanita menerima warisan lebih sedikit daripada lelaki. Yup, betul sekali! Namun,  tahukah? Bahwa harta itu akan menjadi milik pribadinya dan tidak perlu diserahkan kepada suaminya. Sementara
apabila lelaki menerima warisan, ia perlu/wajib juga menggunakan hartanya untuk
isteri dan anak-anak mereka.

4. Wanita perlu bersusah payah mengandung dan melahirkan anak. Namun tahukah mereka bahwa
setiap saat dia didoakan oleh segala makhluk, malaikat dan seluruh makhluk ALLAH
di muka bumi ini.Apalagi  jika ia mati karena melahirkan, maka adalah syahid baginya dan
surga menantinya.

5. Di akhirat kelak, seorang lelaki akan dipertanggungjawabk an terhadap  4 wanita!
yaitu : Isterinya, ibunya, anak perempuannya dan saudara perempuannya. Artinya,
bagi seorang wanita tanggung jawab terhadapnya ditanggung oleh 4 orang lelaki,
yaitu : suaminya, ayahnya, anak lelakinya dan saudara lelakinya. Subhanallah, sungguh beruntungnya menjadi wanita.

6. Seorang wanita boleh memasuki pintu syurga melalui pintu surga yang mana saja yang
disukainya, cukup dengan 4 syarat saja, yaitu: sembahyang 5 waktu, puasa di bulan
Ramadhan, taat kepada suaminya dan menjaga kehormatannya. Lalu, mengapa harus ragu untuk taat kepada suami serta menjaga kehormatan?

7. Seorang lelaki wajib berjihad fisabilillah, sementara bagi wanita jika taat akan
suaminya, serta menunaikan tanggungjawabnya kepada ALLAH, maka ia akan turut
menerima pahala setara seperti pahala orang pergi berjihad fisabilillah tanpa
perlu mengangkat senjata.

Masha ALLAH ! Demikian sayangnya ALLAH pada wanita Ingat firman Nya, bahwa mereka tidak akan berhenti melakukan segala upaya, sampai Kita ikut / tunduk kepada cara-cara / peraturan buatan mereka. (emansipasi Ala western)

Yakinlah, bahwa sebagai dzat yang Maha Pencipta, yang menciptakan Kita, maka sudah pasti Ia yang Maha Tahu akan manusia, sehingga segala Hukumnya / peraturannya, adalah YANG TERBAIK bagi manusia dibandingkan dengan segala peraturan/hukum buatan manusia.
BERSYUKURLAH MENJADI WANITA! Jangan merasa ada perbedaan gender  dalam Islam. Sungguh, ISLAM benar-benar memuliakan wanita. J  Berbahagialah wahai para muslimah. Jangan risau hanya untuk apresiasi absurd dan semu di dunia ini. Tunaikan dan tegakkan kewajiban agamamu, niscaya surga menantimu.

----------
Untuk Pria: Jagalah isterimu karena dia perhiasan, pakaian dan ladangmu, sebagaimana Rasulullah pernah mengajarkan agar kaum lelaki  berbuat baik selalu (gently) terhadap isterimu.

Adalah sabda Rasulullah bahwa ketika kita memiliki dua atau lebih anak perempuan, mampu menjaga dan mengantarkannya menjadi muslimah Yang baik, maka surga adalah jaminannya.
Dan tentunya, banyak pula kehebatan-kehebatan dari makhluk yang bernama “PRIA” sehingga  bisa menjadi Imam bagi  diri, keluarga, dan negaranya.

by: Kelinci_Sholiha
(Pamulang Kota, 30 November 2011)

Terinpirasi dari posting facebook.wanita muslimah luar biasa
Baca selengkapnya » 1 komentar

Rabu, 21 September 2011

Tips Ikhwan Agar Tidak Mudah Terserang FPI

priyayimuslim - Entah kenyataan atau sekedar perasaan ana saja bahwa ikhwan lebih mudah terjatuh sakit cinta daripada akhwat. Terjatuh sakit cinta bagi sebagian orang adalah hal yang membahagiakan, namun bagi sebagian lain terlalu menyakitkan. Jenderal Tian Feng a.k.a. Ti Pat Kai dalam Kera Sakti selalu menggumamkan puisi tentang cinta.
dari dulu beginilah cinta
deritanya tiada akhir
Itu adalah puisi cinta abadi Sang Jenderal. Namun bagi sebagian kita, cinta ibarat taman bunga di musim semi, penuh warna dan keharuman tiada tara, penuh kejutan indah yang memacu jantung dan adrenalin. Ada kerinduan untuk sekedar berjumpa dan mendengar suaranya. Ada hasrat untuk tahu kabar keadaannya. Ada kekuatan untuk mau berkorban harta bahkan jiwa. Sungguh cinta itu....seperti syair Pangeran Menjangan a.k.a. Wei Siao Bao.
angin dingin menepati janji
bulan purnama tiada batas
rasa rindu kulalui sehari serasa setahun
Ana termasuk orang yang tidak percaya cinta sejati bagi seseorang yang belum mengikatnya dalam ikatan suci. Cinta yang dirasakan sesorang kepada seseorang yang lain, menurut ana masih merupakan campuran atau semata-mata nafsu. Cinta ini akan bermetamorfosis menjadi cinta sejati yang hakiki jika telah melewati gerbang pernikahan. Itu menurut ana tentang cinta bagi yang belum nikah, jadi gak boleh ada yang protes. Cinta yang dibahas pada postingan kali ini adalah cinta laki-laki kepada perempuan, bukan cinta yang lain.
Saat ini perasaan cinta sebelum nikah banyak disebut dengan Virus Merah Jambu. Padahal warna merah jambu adalah warna yang indah dan cerah. Menurut ana kurang tepat jika virus yang bisa merusak ini disebut dengan Virus Merah Jambu. Ana menyebutnya sebagai Virus Panah Iblis karena virus ini lebih sering muncul karena pandangan yang tidak terjaga. Dalam sebuah hadits qudsi:
"Pandangan mata adalah panah beracun dari antara panah-panah Iblis. Barangsiapa meninggalkannya karena takut kepada-Ku maka Aku ganti dengan keimanan yang dirasakan manis dalam hatinya." (HR. Al Hakim)
Maka, barang siapa yang meninggalkan pandangan jelalatan karena takut Allah niscaya akan diberikan kepadanya rasa manisnya iman di hati. Mungkin juga manis yang dimaksud adalah manisnya cinta hakiki.
Untuk memudahkan menyebut Virus Panah Iblis maka ana mengubah konsonan ‘V’ pada kata virus dengan ‘F’ agar mudah dan familiar di telinga. So, Virus Panah Iblis dipelesetkan menjadi Firus Panah Iblis dan disingkat menjadi FPI. Ana tidak bermaksud menjelekkan Front Pembela Islam yang singkatan namanya juga FPI, ana termasuk pendukung sebagian langkah FPI kok. Buat yang anggota dan pendukung FPI, jangan tersinggung yah...
FPI juga singkatan dari Forum Pasangan Intim alias pacaran. Ana udah ngebahas di postingan yang lain. Jadi, dengan sangat ana menganjurkan kepada setiap yang menyebut Virus Merah Jambu menjadi Firus Panah Iblis. Dengan menyebutnya sebagai Firus Panah Iblis maka akan memberi efek psikologis bahwa virus ini bisa sangat berbahaya dan merusak jiwa. Coba bandingkan kalau disebut dengan nama Virus Hijau Melon, Virus Ungu Terong, Virus Kuning Telur, Virus Manis Gula, Virus Merah Bawang, atau Virus Pedas Merica. Malah sudah bisa buat masak sayur kan?
Beberapa ikhwan yang mudah sakit jatuh cinta karena terserang FPI memiliki tips dan trik tertentu dalam mencegah penyakit ini. Ada yang sering minum suplemen, olahraga setiap hari, membersihkan lingkungan tempat tinggal, ikut klub kebugaran, membuang sampah pada tempatnya dan makan empat sehat lima sempurna.... (Lho? Kok malah sehat raga dan badan?)
Ana mencari tips-tips khusus yang khas untuk menghindarkan diri dari mudahnya terserang FPI ini dari beberapa ikhwan. Untuk cara paling umum seperti ikhlas, gadhul bashar, puasa, hijab fisik dan jaga hati tidak ana masukkan dalam tips khusus karena merupakan metode umum, di Quran dan hadits sudah ada. Tips ini belum tentu benar bagi seseorang dan salah bagi seseorang yang lain. Semua tergantung pada personal yang mengalami dan memiliki trik untuk tetap sehat dan tidak mudah terserang FPI. Kalaupun akhirnya terserang maka itu memang fithrah ikhwan untuk terjatuh. Asal jangan jangan jatuh cinta melulu, harus ada saatnya untuk bangun cinta (pinjam istilahnya Salim A. Fillah).
Tips ini sifatnya masing-masing mandiri, berdiri sendiri dan independen dari tips yang lain, jadi dari tips yang satu bisa bertentangan dengan tips yang lain. Kalau mau dipraktikkan silakan, kalau mau ditolak juga silakan karena beberpa tips jika diterapkan kepada seseorang malah akan membuatnya lebih mudah kena serangan FPI. Kepada ikhwan yang telah berbagi tips ini, ana ucapkan syukran jiddan, jazakumullah khairan katsiran
.
Tips pertama, menetapkan kriteria yang tinggi bagi calon isterinya.
Dengan menetapkan kriteria yang tinggi bagi calon isteri, maka ikhwan ini tidak akan mudah tergoda dengan akhwat yang tidak sesuai standarnya. Kriteria yang tinggi misalnya hafal Al Quran sekian juz, menguasai ilmu-ilmu syari’at, anak orang yang kekayaannya setingkat eselon satu, kecantikannya minimal seperti model terkenal, keturunan ningrat atau kyai, pendidikannya minimal S2, pokoknya kriteria yang tinggi dalam hal bibit, bebet, dan bobot.
Penetapan kriteria yang tinggi akan membuat selektif dalam memilih dan memilah akhwat yang mungkin saja diharapkan menjadi isterinya. Jika ada perasaan pengharapan kepada seseorang maka akan tertanam pemikiran sapa sira sapa ingsun, siapa elu siapa gue. Pengharapan inilah yang sebenarnya memicu FPI. Jadi dengan sedikit pengharpan pada akhwat di sekitarnya, yang notabenenya di bawah standarnya, maka dia akan lebih jarang jatuh terserang FPI.
Kelemahan tips ini terletak pada saat tidak adanya kompromi ketika mencoba ta’aruf dengan seseorang. Karena kriteria yang tinggi, susah dapat jodoh. Terpaksa menurunkan kriteria. Masih susah juga? Akhirnya diobral, siapa saja deh, yang penting akhwat....hwehehe.

Tips kedua, berazam tidak menikahi akhwat dengan kriteria tertentu.
Ini merupakan logika terbalik dari tips pertama. Tingkatan keinginannya sampai tingkat azam, belum sampai tingkat niat. Sebenarnya maksud tidak menikahi akhwat dengan kriteria tertentu adalah kriteria itu sendiri. Sebagai contoh jika seseorang memiliki kriteria calon isterinya minimal berpendidikan SMA maka secara otomatis ia tidak ingin menikah dengan akhwat yang pendidikannya hanya SMP.
Contoh dalam berazam seperti ini adalah misalnya berazam tidak menikahi akhwat sekampus. Akhwat sekampus kan biasanya sering terlibat dalam berbagai aktifitas kejama’ahan dengan ikhwan, maka dengan kriteria seperti ini, pengharapan-pengharapan penyebab FPI dapat diminimalisasi. Bahkan yang lebih ekstrim seorang ikhwan berazam menikah dengan seseorang yang belum pernah dikenalnya kecuali setelah proses ta’aruf, dengan kata lain dia berazam tidak menikahi akhwat yang sudah dikenalnya. Yang seperti ini banyak sekali terjadi.
Namun, yang namanya jodoh kan sudah diatur dari zaman bahuela. Kalau lewat proses ta’aruf dengan jalur PNS alias dicarikan ternyata mentok dapat akhwat yang sekampus, ya akhirnya diterima jadi isterinya juga...hwehehe.

Tips ketiga, menganggap akhwat sebagai cewek.
Istilah akhwat yang dipakai adalah dalam pengertian sempit lho ya! Ikhwan tentu mempunyai pengharapan memiliki isteri yang akhwat. Di sisi lain ia sangat menghindari mempunyai isteri cewek. Masak sih ikhwan punya isteri yang gak pakai hijab, begitu pemikiran hampir semua ikhwan.
Pikiran inilah yang membuat pemikiran terhadap akhwat dan cewek berbeda. Jika, seseorang berada di sekitar lingkungan akhwat maka si ikhwan pasti dalam kondisi kikuk, kaku, mungkin tertekan, grogi dan nervous. Penyebabnya adalah baik ikhwan dan akhwat sudah sama-sama paham tentang adab. Selain itu di pengharapan akan menjadikan seorang akhwat sebagai isteri selalu menghantui, bisa muncul kapan saja, dimana saja, kepada siapa saja. Sementara jika berada dalam lingkungan cewek hal itu relatif tidak terjadi, paling standar adalah tetep ghadhul bashar.
Seorang ikhwan yang menganggap akhwat sebagai cewek akan memperlakukan akhwat sebagai cewek. Dianggap hanya seseorang yang biasa saja, dengan pemahaman adab seadanya, dapat bergaul dengan biasa seperti masyarakat kebanyakan saat ini.
Kelemahan tips ini adalah kemungkinan melanggar adab-adab pergaulan antara ikhwan dan akhwat yang dipahami sebagai pergaulan yang harus kaku sekali.

Tips keempat, mengganggap akhwat sebagai sahabat biasa.
Antum tentu paham beda antara sekedar kenalan, sekedar teman, dan sahabat. Perbedaannya terletak pada saling mengenalnya, saling memahaminya, dan saling berkorbannya. Seorang sahabat adalah seseorang yang dekat dalam artian hati dan pemahaman. Tips ini lebih ekstrim dari tips ketiga.
Dalam menjalankan tips ini, seorang ikhwan bisa memanggil sang akhwat dengan panggilan panggilan khusus persahabatan atau panggilan khusus pertemanan. Contohnya memanggil tanpa sapaan ukhti atau apalah... Misalkan sang akhwat bernama Fulanah, tapi pangilan akrabnya adalah Nana, maka sang ikhwan, karena mengganggapnya sebagai sahabat memanggilnya dengan sekedar sebutan nama akrab tersebut, “Nana,...!”. Tanpa embel-embel sapaan di depan namanya juga.
Kelemahan tips ini sama dengan tips ketiga, bahkan lebih ekstrim.

Tips kelima, memanggil akhwat dengan sapaan tertentu.
Sapaan yang digunakan adalah sapaan berupa penghormatan. Sebagian ikhwan memanggil dengan sapaan ‘ukh Fulanah’, ‘ukht Fulanah’ atau ‘ukhti’. Namun bagi sebagian ikhwan yang lain tips ini sangat berbahaya bagi dirinya karena panggilan-panggilan tersebut terkesan sangat mendayu-dayu dan membuat pengharapan yang tidak diharapkan. Memancing FPI.
Seperti akhwat yang memanggil dengan sapaan ‘pak’ kepada ikhwan, walaupun terkadang ikhwannya masih bujang bahkan lebih muda, maka ikhwan juga punya sapaan kepada akhwat. Selama ini ana jarang menemui ikhwan yang menyapa dengan sebutan ‘bu’ sebagai lawan dari sapaan ‘pak’. Kesannya malah seperti memancing fitnah. Memang kadang banyak juga yang menyebut akhwat dengan sebutan ‘ibu-ibu’ atau ‘ummahat’.
Sebagian ikhwan menyapa akhwat dengan sebutan ‘mbak’ yang terkesan menghormati dan menuakan akhwatnya. Sehingga pengharapan sebagai sumber FPI bisa diminimalisasi seefektif mungkin. Kelemahannya adalah jika akhwat yang disapa bukan orang Jawa, akan cukup mengganggu juga secara kultural.
Sapaan ‘dik’ kepada akhwat dan ‘mas’ kepada ikhwan sebagai lawan sapaan ‘mbak’ jarang sekali digunakan karena malah bisa menjadi sumber penyakit bagi kebanyakan orang. Biasanya panggilan ini dipakai oleh suami-isteri muda yang belum punya anak.
Untuk mencegah jatuh dari kedua belah pihak secara umum, dalam memanggil akhwat, ikhwan menggunakan nama formal sang akhwat yang umum. Menghindari nama-nama akrab kecuali memang sudah menjadi umum.

Tips keenam, bersikap cuek dan tegas terhadap akhwat.
Bersikap cuek disini bukan karena watak, tetapi merupakan sebuah perlindungan diri agar tidak terserang FPI. Cuek bukan berarti tidak peduli 100%. Kepedulian ditempatkan pada proporsinya dengan timbangan dan ukuran yang tepat. Namun memang sikap cuek menimbulkan kesan apatis dan tidak peduli.
Cueknya seorang ikhwan terhadap akhwat biasanya berbentuk keengganan komunikasi lisan antara keduanya. Bisa jadi memang hanya kesan enggan, padahal belum tentu. Jika berkomunikasi ikhwan hanya menjawab secukupnya atau bahkan tidak cukup. Disingkat, berisi, to the point, padat dan merayap.
Jika ditelepon akhwat tidak mau mengangkat jika belum tiga kali panggilan. Jika di-SMS tidak mau membalas jika tidak sangat urgent dan darurat. Balasannya pun singkat. Jika jawabannya ya maka hanya ditulis ‘Y’. Jika jawabannya nggak, cukup ditulis ‘G’. Kalu pakai Esia, tarif SMS cuma Rp 1,-, murah meriah euy...
Bersikap tegas biasanya diwujudkan dengan cara berbicara yang agak ketus. Sekenanya dan seperlunya.
Realisasi cuek juga bisa menyebabkan sikap apatis dalam beraktifitas. Karena bersikap cuek terhadap akhwat, misalnya tidak mau mengikuti suatu organisasi yang penting karena saat itu kebanyakan pengurusnya adalah akhwat. Yang diinginkan hanya mencari zona aman dan nyaman.
Kelemahan dari tips ini adalah rawan akan kerusakan ukhuwah, menimbulkan perpecahan, bahkan mungkin menimbulkan permusuhan karena miss communication dan kesalahpahaman akan sikap cuek tersebut. Sangat mungkin akhwat merasa dibenci oleh sang ikhwan yang cuek. Akibatnya ya kerusakan pondasi ukhuwah itu sendiri.

Tips ketujuh, menjadi aktifis yang serba sibuk.
Maksudnya dengan memberikan jiwa, raga dan pikiran kelelahan-kelelahan karena aktifitas organisasi atau jama’ah. Dengan begitu tidak ada waktu untuk sempat berpikir yang macam-macam tentang ini dan itu tentang akhwat.
Yang diurus adalah jadwal syura’, jadwal ngajar privat, bikin slide presentasi, ngerjain makalah, membuat tugas kelompok, praktikum kuliah, membuat konsep acara program kerja, ketemu Bapak A dan Bapak B, ngebersihin kamar, nyuci pakaian kotor, nulis blog, makan di warteg, silaturahim ke tempat saudara, datang ke kajian, datang ke toko buku, datang ke masjid, datang ke kuburan....
Kelemahan tips ini adalah jika ternyata mitra kerja di organisasi adalah akhwat. Interaksi yang sering dilakukan malah bisa menimbulkan FPI. Kelemahan yang lain adalah jika ternyata aktifitas yang dilakukan terlalu banyak, malah badan jadi rusak, jiwa jadi sesak dan pikiran jadi nggak enak.

Tips kedelapan, nggak jaim, nggak sok cool tapi tidak boleh over PD.
Sikap jaim (jaga image) bagi sebagian akhwat akan menimbulkan kesalahpahaman. Orang yang jaim berpotensi ingin menunjukkan bahwa dirinya pantas untuk jadi idaman akhwat. Yang diperbolehkan dan diharuskan adalah jaiz (jaga izzah), menunjukkan bagaimana sesorang muslim harus berperilaku.
Sikap sok cool juga akan menyebabkan hal yang serupa dengan jaim. Sedangkan sikap over PD akan menyebabkan diri mudah takabur dan menimbulkan hal-hal yang tidak-tidak di pikiran akhwat. Hal yang tidak-tidak di akhwat ini mudah menular ke ikhwan. Jadi melakukan double protection sekaligus sebelum FPI menyerang diri sendiri.
Kelemahannya adalah batas tipis antara harus jaiz dan dilarangnya jaim. Hati yang tidak teguh pada Allah akan mudah terpeleset. Demikian pula batas antara keyakinan dan over PD. Sangat tipis seperti kaos pilkada...

Tips kesembilan, menjaga jarak dengan akhwat.
Maksudnya jarak disini adalah dalam artian harfiah sesungguhnya. Misalnya tidak mau di sekitarnya ada akhwat dalam radius 5 meter ke segala arah, apalagi di depannya persis. Kalau duduk di kelas mencari posisi paling depan pojok dimana posisi ini susah untuk melihat akhwat bahkan melirik sekalipun. Kalau kebetulan ada dalam syura’ bersama masyarakat ‘amm mencari posisi yang agak tersembunyi dari akhwat, di deket toilet misalnya.
Jika kebetulan di jalan berpapasan dengan akhwat langsung nyari jalan muter meski harus menambah jarak setengah kilometer. Kalau berjalan sementara di belakangnya ada akhwat yang juga searah, segera mempercepat langkah atau bahkan lari agar segera lenyap dari pandangan dan perasaan akan sosok sang akhwat di belakang. Jika kebetulan berjalan di belakang akhwat segera milih berhenti dan menunggu sampai kira-kira si akhwat sudah tidak ada di jalan, atau pilihan kedua mencari jalan memutar dan berlari agar posisi berjalan bisa berada di depan akhwat.
Kelemahan tips ini adalah sulit dilaksanakan mengingat sekarang sudah banyak akhwat berkeliaran dan bertebaran di berbagai titik koordinat...

Tips kesepuluh, ‘membenci’ apa yang dicintai akhwat dan ‘mencintai’ apa yang dibenci akhwat.
Benci dan cinta di sini maksudnya bukan untuk menjelekkan atau memusuhi akhwat tapi benci dan cinta karena Allah. Dengan ‘membenci’ apa yang dicintai akhwat maka akan timbul semacam gap antara ikhwan dan akhwat yang dapat mencegah timbulnya FPI. ‘Ketidakcocokan’  di awal akan memusnahkan pengharapan-pengharapan akan sosok tertentu. Tanpa adanya pengharapan ini maka FPI akan sulit untuk berbiak di hati ikhwan.
Misalkan di suatu komunitas akhwatnya relatif menyukai kegiatan A, maka ikhwan berusaha untuk ‘membenci’ hal tersebut. Jika akhwat menyukai sudut pandang X terhadap suatu hal maka si ikhwan lebih menyukai sudut pandang Y dan ‘membenci’ sudut pandang X. Hal ini juga berlaku untuk kaidah ‘mencintai’ apa yang dibenci akhwat.
Kelemahan tips ini adalah susahnya mencintai dan membenci karena Allah dan istiqamah. Dalam perjalanannya mungkin saja benci dan cintanya karena benci pada sosok yang bersangkutan

Tips kesebelas, jangan mencari persamaan si ikhwan dengan si akhwat.
Mencari-cari kecocokan antara si ikhwan dan si akhwat hanya akan menyebabkan semangat dan harapan akan jodoh di masa depan, dari awalnya yang sekedar kriteria akhirnya berwujud menjadi sosok dan personal.
Jika memang ada persamaan antara si ikhwan dan si akhwat maka itu hanyalah kebetulan. Lagipula jauh lebih banyak orang lain yang memiliki persamaan dengannya. Jadi, dengan semua persamaan dan kecocokan itu bersikap biasa sajalah....
Bahkan kalau perlu carilah perbedaan dan ketidakcocokan antara diri dengan dia. Tapi, jangan mencoba merasa mampu menyelesaikan perbedaan dan ketidakcocokan itu dengan harapan akan menghilangkannya dengan saling pengertian. Malah FPI yang datang dan bersarang.
Kelemahannya adalah tips ini memerlukan semacam pengetahuan akan aib seseorang. Padahal aib selayaknya untuk ditutupi, bukan dicari-cari kian kemari ke kanan kiri dan berbagai situasi.

Tips keduabelas, tips terampuh dari berbagai ikhwan, nikah!
Padahal awalnya menurut ana itu adalah metode umum yang tidak dapat dimasukkan dalam tips khusus ini, tapi dari hampir semua yang ana tanya selalu memberikan jawaban ini. Akhirnya dengan terpaksa ana dipaksa untuk memasukkan tips ini sebagai tips terampuh dalam menghadang FPI.
Salah satu SMS yang datang dari seorang al akh:
Ada lagi cara yang lebih expres. Begitu ada kecenderungan, istikharah, ta’aruf. Kalau sama-sama cocok, khitbah, tapi sepakati kapan waktu nikah yang ahsan. Kalau nggak cocok ya mundur, nggak boleh maksa, harus ikhlas. (Dari: M* H**** 3 +62898806XXXX Dikirim: 11-Jul 14:24 Diterima: 11-Jul 14:25)
Nikah akan mengalihkan pikiran dari pengharapan-pengharapan yang tidak perlu. Pengharapan yang selama ini menghantui telah berwujud menjadi bidadari yang setia menanti di rumah sendiri. Kalaupun ada godaan syetan di tengah jalan, ya, tinggal pulang saja. Di rumah ada yang halal kok.
Seperti yang ana ungkapkan di awal bahwa cinta sejati yang hakiki hanya akan terwujud jika telah melewati gerbang pernikahan ini. Jika belum melewatinya, ana masih menganggapnya syubhat dengan nafsu. Sementara nafsu hanya bisa dihalalkan lewat jalur pernikahan.
***
Itulah tips bagi ikhwan untuk menghindari serangan FPI dari berbagai macam jenis  ikhwan yang ana kenal. Tidak ada maksud untuk menjelekkan akhwat atau bagaimana, tapi memang begitulah keadaan di ikhwan. Jadi, bagi akhwat yang membaca artikel ini harap maklum dan mafhum. Bagi yang mau mengamalkan tips-tips ini, silakan pilih dan pilah serta sesuaikan dengan diri masing-masing.
Bagi yang mau menambah tips khusus yang unik untuk meminimalisasi serangan FPI, ana persilakan dengancomment terbuka. Afwan jiddan, kalau ada yang tersinggung. Peace...! (^_^)v

sumber artikel: http://priyayimuslim.multiply.com
Baca selengkapnya » 1 komentar

Etika Komunikasi Ikhwan dan Akhwat

muslimahfathina - Masalah klasik yang hampir tidak pernah usai hingga saat ini, bagaimana agar komunikasi ikhwan dan akhwat berjalan baik dengan tetap menjaga hijab. Saya masih berpikir kenapa masalah ini bisa muncul. Ketika membaca buku men from mars and women from venus, saya mulai sedikit memahami karakter ikhwan dan akhwat dari segi psikologi. Saya mencoba melalukan beberapa pengamatan kepada teman-teman saya terkait fenomena ini. Rapat demi rapat, kepanitiaan demi kepantiaan, saya baru memahami bagaimana seorang pria berpikir tentang perempuan dan perempuan berpikir tentang pria.
Untuk para pria, perlu Anda pahami bahwa perempuan relatif lebih peka dan sensitif ketimbang pria. Perempuan lebih tertata dalam menyusun agenda, maka sering kita lihat perempuan lebih rapih dalam segala hal. Karena mereka melakukan sesuatu dengan perencanaan, baik itu jangka pendek atau panjang. Perempuan yang bekerja biasanya lebih rajin ketimbang pria, ini mengapa kita mulai melihat para perempuan yang telah menjadi profesional atau pejabat, karena mereka rajin dalam menjalankan tugas. Satu hal yang perlu diingat oleh para pria adalah perempuan tidak suka di khianati dan perempuan itu butuh kepastian.
Untuk para perempuan, perlu saya sampaikan bahwa pria memang cenderung egois dan self-oriented. Seorang pria lebih bisa menghabiskan waktunya sendirian ketimbang perempuan. Dan seorang pria ketika sudah masuk keduniannya akan sulit untuk diganggu. Sebutlah seorang pria yang sedang badmood dan ia memilih untuk sendiri untuk mengembalikan mood nya, maka ia akan sangat terganggu sekali jika ada yang menggangu, bahkan sebuah sms bisa membuat mood nya lebih parah. Sehingga seringkali ia mengabaikan panggilan yang ada. Saya menyebutnya, pria mempunyai gua sendiri yang dimana hanya ia yang memahaminya, dan seorang perempuan sepertinya harus menunggu pria ini keluar gua nya baru bisa memanggil pria ini.
Pria relatif lebih ingin diperhatikan dan dipahami, karena sedikit ”sentuhan” saja bisa membuat seorang pria berpikir terbalik 180­ derajat. Oleh karena itu, seorang perempuan kiranya perlu memahani mengenai kebutuhan dasar pria ini untuk membentuk pola komunikasi yang baik.
Pada kasus nyata, bisa kita ambil contoh dua buah kisah yang saya akan beri pandangan point of view yang harus diambil. Kisah pertama, sekelompok ikhwan dan akhwat yang berada dalam sebuah kepanitiaan. Dimana mereka biasa menjalankan rapat rutin untuk membahas segala sesuatu. Pada suatu ketika, ketua panitia dihadapi pada sebuah kondisi dimana butuh keputusan cepat, padahal saat itu waktu sudah menunjukan pukul 19.00, dan keputusan harus sudah ada malam itu juga. Sehingga ketua panitia ( ikhwan tentunya ), memutuskan untuk mengumpulkan seluruh panitia ikhwan untuk membahas masalah tersebut, dan terselesaikanlah masalah itu. Esok siangnya seluruh panitia rapat kembali ( ikhwan dan akhwat ), dan ketua panitia menceritakan kejadian malam hari itu, setelah mendengar cerita itu, pihak panitia akhwat merasa tidak dilibatkan dalam pengambilan kebijakan, akhwat merasa hanya sebagai pelaksana keputusan dan berbagai keluhan lain.
*pada kasus ini akhwat merasa di khianati dalam arti tidak diberi kepercayaan untuk ikut berpikir bersama, atau merasa dilangkahi dalam mengambil keputusan.
*pria ketika sudah mengerjakan sesuatu relatif keasikan sendiri sehingga lupa bahwa ada pihak akhwat yang perlu dilibatkan.
Kisah kedua, seorang ketua muslimah di sebuah lembaga dakwah mencoba meng-sms seorang ketua LDK di waktu pagi hari ( sekitar waktu tahajud ), akhwat ini mengetahui bahwa sangat tidak ahsan untuk meng-sms seorang ikhwan pada waktu tersebut, akan tetapi, karena sebuah masalah yang perlu dibahas segera, dengan segala pertimbangan dan kebulatan hati, ia memutuskan untuk meng-sms ketua LDK ini dan meminta diadakan rapat mendadak pagi itu untuk membahasa hal yang penting. Akan tetapi, dikarenakan ketua LDK ini sedang dilanda masalah pribadi yang membuat dirinya tidak ingin diganggu untuk sementara waktu, maka ia tidak membalas sms ketua muslimahnya. Mungkin dikarenakan, berbagai miscall yang dilontarkan oleh akhwat ini, ketua LDK ini akhirnya memutuskan untuk membalas sms akhwat ini dengan asalan saja dan seakan menggantungkan keputusan. Hingga akhirnya akhwat ini mengancam sesuatu sehingga ketua LDK itu memutuskan untuk mengadakan rapat di pagi harinya. Setelah menjalani rapat, akhwat ini meminta berbicara terhadap ketua LDK, dan mengungkapkan kekecewaannya kepada ketua LDK ini dan mengatakan bahwa ketidakpastian yang ketua LDK berikan membuat ia tidak tenang.
*perempuan tidak suka ketidakpastian yang berlarut, butuh ketegasan sikap. Saya merekomendasi kepada para pria untuk sesegera mungkin membalas sms akhwat dengan baik untuk menghindari konflik seperti diatas.
*pria yang sedang dilanda masalah tidak ingin diganggu, bahkan ketika kadar masalahnya cukup tinggi, ia tidak ingin diganggu oleh amanah dakwah, ia lebih memilih sendiri dan tidak bertemu dengan orang orang untuk sementara waktu.
Dengan memahami karakter masing-masing ini, saya berharap Anda dapat mencoba mulai mengaplikasikan hal untuk memahami kekurangan masing-masing. Bermula dari pemahaman ini, selanjutnya saya akan memaparkan bagaimana cara lain untuk membangun komunikasi yang baik dengan tetap menjaga batasan yang ada.
Hijab saat rapat
Beberapa kampus yang pernah saya kunjungi relatif punya cara tersendiri dalam mengaplikasikan hijab dalam sebuah rapat, ada yang membatasa pria dan perempuan dengan batas permanen seperti tembok, ada yang beda ruangan, ada yang dalam bentuk papan setinggi dua meter, atau ada yang cukup dengan jarak 2 meter antara ikhwan dan akhwat. Semua tergantung kebutuhan dan budaya di masing masing kampus. Bagaimana pun bentuk hijab nya , ada beberapa hal yang perlu dipenuhi, yakni :
1. Jelasnya perkataan setiap anggota rapat
2. Tidak membuat ikhwan dan akhwat terkesan rapat sendiri
3. Pemimpin rapat bisa melihat semua peserta rapat ( ikhwan dan akhwat )
4. Kondisi peserta harus tetap kondusif, jangan sampai karena terpisah oleh tembok, atau papan besar membuat peserta rapat tidur-tiduran karena tidak tampak oleh lawan jenis
5. Ada medua penghubung informasi yang bisa dilihat oleh semua peserta, seperti papan tulis, agar tidak terjadi assymetric information
6. Tidak menimbulkan kesan angker atau eksklusif terhadap orang selain kader yang melihat proses rapat.
Proses komunikasi yang efesien
Komunikasi yang dilakukan antara ikhwan dan akhwat perlu diefesienkan sedemikan rupa, agar tidak terjadi fitnah yang mungkin bisa terbentuk. Saya akan mengambil contoh sms seorang ikhwan ke akhwat, dalam dua versi dengan topik yang sama, yakni mencocokan waktu untuk rapat.
Versi 1
Ikhwan : assalamu’alaikum ukhti, bagaimana kabarnya ? hasil UAS sudah ada ? J
Akhwat : wa’alaikum salam akhie, alhamdulillah baik, berkat do’a akhie juga, hehehe, UAS belum nih,
uhh, deg deg an nunggu nilainya, tetep mohon doanya yah !!
Ikhwan : iya insya Allah didoakan, oh ya ukhti, kira kira kapa yah bisa rapat untuk bahas tentang acara ?
Akhwat : hmhmhm… kapan yah ? akhie bisanya kapan, kalo aku mungkin besok siang dan sore bisa
Ikhwan : okay, besok sore aja dech, ba’da ashar di koridor timur masjid, jarkomin akhwat yang lain yah
Akhwat : siap komandan, semoga Allah selalu melindungi antum
Ikhwan : sip sip, makasih yah ukhti, GANBATTE !! wassalamu’alaikum
Akhwat : wa’alaikum salam
Versi 2
Ikhwan : assalamualaikum, ukh, besok sore bisa rapat acara ditempat biasa ? untuk bahas acara
Akhwat : afwan, kebetulan ada quis, gimana kalo besok siang aja?
Ikhwan : insya Allah boleh, kita rapat besok siang di koridor timur masjid, tolong jarkom akhwat, syukron, wassalamu’alaikum
Dari dua contoh pesan singkat ini kita bisa melihat bagaimana pola komunikasi yang efektif dan tetap menjaga batasan syar’i. Pada versi 1 kita bisa melihat sebuah percapakan singkat via sms antara ikhwan dan akhwat yang bisa dikatakan sedikit “lebai” ( baca “ berlebihan ), sedangkan pada versi 2 adalah percakapan antara ikhwan dan akhwat yang to the point, tanpa basa basi. Sebenarnya bagaimana kita membuat batasan tergantung bagaimana kita membiasakannya di lembaga dakwah kita saja. Perlu adanya leader will untuk membangun budaya komunikasi yang efesien dan “secukupnya”.
Dalam hal percakapan langsung, seorang ikhwan dan akhwat dilarang melakukan percapakan berdua saja, walau itu di tempat umum. ketika terjadi percakapan langsung maka akhwat meminta muhrimnya (sesama jenis kelamin) untuk menemaninya. Dengan itu diharapkan pembicaraan menjadi terjaga dan meminimalkan kesempatan untuk khilaf. Dengan melakukan pembicaraan yang secukupnya ini sebetulnya dapat lebih membuat pekerjaan menjadi lebih cepat dan efektif. Karena setiap pembicaraan yang dilakukan tidak ada yang sia sia, semua membahas tentang agenda dakwah yang dilakukan.
—————————————————————————————————–
Interaksi yang terjaga antara ikhwan dan akhwat dalam dakwah ditujukan agar segala aktivitas yang dilakukan tidak sia-sia, tidak keluar dari koridor syar’i dan agar Allah ridho sehingga pertolongan Allah akan segera datang untuk perjuangan dakwah ini.
Allahu Akbar!!!

sumber berita dari :
http://muslimahfathina.co.cc/2011/04/24/komunikasi-ikhwan-dan-akhwat/
Baca selengkapnya » 0 komentar

Senin, 19 September 2011

Mujahidahku - Gondes

















JUDUL LAGU: MUJAHIDAHKU
PENYANYI: TEAM NASYID GONDES
8######################8

Hai Mujahidahku maju ke hadapan,
Jagalah pandangan, karna banyak Ikhwan…
Perjuangan lebih ringan dengan bantuanmu,
Kiprah dakwahmu mampu menyejukkan hatiku...

Jangan bimbang ragu membaca dataku,
Hapus bayang semu tentang usiaku…
Orangtuaku telah ridha memberi restu,
Mereka tak sabar lagi untuk punya mantu…

Majulah wahai mujahidahku,
Jangan langsung buru-buru tutup pintu..
Walaupun kau digoda pembantu*,
Fitnah harus segera berlalu…

Majulah wahai mujahidahku,
Hari ini aku ingin mengkhitbahmu…
Katakan pada orangtuamu,
Jangan pernah tolak lamaranku...
(Nyanyiin pake nada Hai Mujahid Muda-Izzis)

Cinta yang tulus untuk kita,
Adakah cinta yang membimbing ke surga...
Dimana cinta tulus pada sesama,
Dimana cinta yang tiada fitnah dunia,
Adanya di PK Sejahtera...

Lihatlah, Allah Maha Karya,
Ciptakan bintang-bintang..
Pembela Islam yang sempurna,
Dari musuh-musuh hina,
Yang kan redupkan cahaya iman dengan dunia...

Kita telah siaga,
Melawan aksi mereka,
Karena syahid cita kita,
Surga Allah impiannya,
Semangat, tegakkan agama,
Bela PK Sejahtera...
(Nyanyiin pake nada Lagu Peterpan lah pokoknya, lupa judulnya, hhe..)

Ada Apa Dengan Cinta...
Cinta kepada Allah,
Cintanya Rasulullah,
Cintanya Ruhul Jihad kita...

Wahai mujahid Allah,
Bela shunnah Rasulnya,
Hidup dalam agama,
Harga diri akan mulia...
(Nyanyiin pake nada OST.AADC)

Aku tak biasa,
Shalat fardhuku sendirian,
Aku tak biasa,
Bila shalat shubuhku kesiangan...

Aku tak biasa,
sehari tiada baca Qur’an,
Aku tak biasa,
Bila sepekan tiada pengajian...

Aku tak biasa,
Tak punya amalan unggulan,
Aku tak biasa,
Bila sebulan tiada demo di jalan...

Aku tak biasa...
Aku tak biasa...
(Nyanyiin pake nada Aku tak biasa-Alda Risma)

Hari ini, hari ini ada pengajian..
Jangan ragu, jangan takut,
Undang semua kawan..
Walaupun modalnya panitia serba pas-pasan,
Luruskan niat hanya Allah satu tujuan,
Walaupun naik bisa kotanya berdesak-desakkan...

Hai mujahid lihat yang duduk di depan kita,
Wajahnya damai dan senyumnya cerah ceria,
Walau terkadang bolos di kelompok ngajinya,
Tetapi murrabi selalu berlapang dada,
Ridha membantu seluruh proses ta’arufnya...

Hari ini, hari ini ada pengajian...
Jangan lupa pasang senyum yang manis menawan,
Kasihan saat liat panitia kelelahan,
Kasihan ada panitia yang pusing beneran,
Ternyata pusingnya karena masih bujangan...

Jadi panitia menyenangkan..
Ada maksud yang disembunyikan...
Silaturahmi yang diutamakan,
Semoga ketemu yang diimpikan....
Kalaupun jodoh wallahu ’alam...

Hari ini, hari ini ada pengajian...
Maafkan kalo kami terlalu mengesankan..
Hati berdebar, kepala menjadi nyut-nyutan,
Kami harus segera kembalikan pinjaman,
Tapi yakin Allah akan mudahkan urusan...

Hai mujahid kita jadi pusat perhatian,
Walau panitia sibuk menghitung tagihan,
Khawatir ada yang belum membayar iuran,
Terkadang panitia pada kurang kerjaan,
Tapi kita bantu saat mereka walimahan...

Hari ini, hari ini ada pengajian..
Mohon maaf kalo kami banyak kesalahan,
Mohon diri kami harus segera pulang kandang,
Di tempat tinggal kami masih banyak cucian,
Maklum lah kami semua masih sendirian...

Luruskan niat hanya Allah satu tujuan,
Walau naik bis kotanya berdesak-desakkan...
Baca selengkapnya » 1 komentar

Dalam Naungan Cinta-Nya